Zona Kosmopolitanisme, Ketegangan Kota, dan Seni Rupa Kalimantan

Kompas.com - 21/09/2019, 16:10 WIB

Hal itu bisa ditelisik sebagai ciri globalisasi dengan karakternya yang berhadap-hadapan justru dengan tribalisasi, kembalinya semua hal ke akar.

Dengan demikian, dalam konteks Keindonesiaan atau Kekalimantanan, seniman-seniman tak menampik arus internasionalisasi yang secara fleksibel juga mengadopsi, atau bahkan sangat paham adanya kesadaran-kesadaran untuk kembali, memelihara akar lokalitas sebagai semacam strategi bersama, menampak dalam bahasa artistik mereka.

Hal ini, oleh Okwui Enwezor, seorang kritikus Afro-Amerika dunia pernah disinggung sebagai gejala seni Altermodern, meminjam peristiwa pameran yang dikuratori kritikus Perancis, Nicolas Bourriaud.

Dana Prastiyawardanu, Tragis!, Acrylic on Canvas, 70x90 cm, 2019Dok Dana Prastiyawardanu Dana Prastiyawardanu, Tragis!, Acrylic on Canvas, 70x90 cm, 2019
Yakni, sebuah kondisi yang benar-benar terjadi dan baru dengan hadirnya daya artistikal yang heterogen dari seni kontemporer.

Bahkan sejak 1980-an yang menjadi gejala masif, kemudian dikembangkan lebih luas sebagai semacam konsekuensi fenomena migrasi, dekolonialisasi serta globalisasi, utamanya adalah upaya meninjau ulang narasi-narasi besar dalam seni yang disebarkan keseluruh dunia.

Dasar berpijaknya, dari tinjauan Enwezor itu, seniman-seniman Altermodern sebagai lahan pelontar ide melawan standardisasi budaya dan merupakan sebuah kondisi yang terjadi secara masif, kemudian pada saat sama membuka kesempitan makna “nasionalisme ala Barat” di masa lalu, dengan memperkaya kehadiran relativisme kultural.

Dalam konteks inilah, kecenderungan-kecenderungan seniman Kalimantan adalah bisa dihela produksi artistiknya dengan memposisikan dirinya sendiri, dalam menolak ketimpangan-ketimpangan atau posisi yang disebut sebagai “ketimpangan kultural” karena telah meletakkan dirinya sendiri dalam sebuah gelanggang dialog di pusat-pusat seni di Indonesia atau bahkan dunia kelak?

Bisa jadi, seperti lukisan perupa Sulistiyono Hilda, berjudul Dialectic of Life Medium, dengan paras wajah fisikawan Einstein sedang “meremas bola dunia” serta berlatar motif etnik Dayak, dari Kalimantan Selatan. Konsep itu bisa setara dengan pernyataanya, bahwa kehidupan akan terus berubah dan bergerak.

"Eksistensi ruang-ruang akan saling berdialektika, budaya lama sebagai tesa dan timbulnya antitesa sebagai respon kebutuhan untuk terus berubah, dan hidup selalu akan memunculkan sintesa baru," kata Sulistiyono.

 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Regional
APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

Regional
Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Regional
Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Regional
Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Regional
Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Regional
Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Regional
Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Regional
Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Regional
Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Regional
8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Regional
Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X