Zona Kosmopolitanisme, Ketegangan Kota, dan Seni Rupa Kalimantan

Kompas.com - 21/09/2019, 16:10 WIB
Fatur Rahmy, Kota Yang Terluka, Fotografi Dokumenter, 1997 Dok Fatur RahmyFatur Rahmy, Kota Yang Terluka, Fotografi Dokumenter, 1997

Kota Yang Terluka, Kota-kota pecah di atas bara api yang menderu, Seorang anak duduk di depan etalase, memandang, Manekin-manekin yang terbakar rambutnya, Ingin disiramnya dengan wajah yang meleleh itu, Sementara di tangannya segelang emas, Tak tahu mau diletakkannya di mana?

Sebuah gardu listrik meledak, Seekor burung gereja terbakar di kabel, Yang tersambung ke sana, Seorang pengayuh becak yang berpeluh mengambilnya, Ditimang-timangnya untuk keluarganya, Sementara asap mengepul dari gedung-gedung tinggi, Ada yang terbakar di sana, sepasang kekasih, Yang baru pertama nonton Romeo dan Juliet, Sebuah bendera berkibar tak lengkap lagi, Warnanya kuning sisinya merah, Hitam jelaga, Sebuah kota kembali muda, Pembangunan sekian puluh tahun tak berarti, Orang-orang dibakar amarah, Orang-orang terbakar janji….Pergi, pergi…Tak kembali.


Sajak dan foto-foto Fatur Rahmy, mengembalikan memori puluhan tahun lampau, sebuah kota yang terluka, di tepian sebuah sungai besar dalam warna hitam dan putih, ketidakadilan tergambar sangat jelas, yang berlangsung lama.

Era reformasi memberi harapan, tatkala rezim politik selama 32 tahun menyebabkan amunisi kebencian pada 1997, meledak melumat kota, yang terus terpatri dalam ingat.

Lain dengan pengalaman personal, Andrew Ong, pelukis dari Kalimantan Timur menghadirkan karya Jangan Lihat Mataku, yang ia rasakan dalam pengalaman-pengalaman internalnya.

Ia keturunan ke tiga dari generasi kakeknya yang memang datang dari China, ke Kalimantan Barat, dengan berperahu, kemudian menetap di Kalimantan Timur.

Seperti yang diakuinya, “Mataku sipit dan saya keturunan Tionghoa, itu adalah kenyataan. Tapi tanah kelahiran saya adalah Indonesia, besar di Indonesia dan sampai sekarang saya masih tinggal di Indonesia, mati pun saya akan di kubur di tanah Indonesia, karenanya Jangan Lihat Mataku” ujarnya.

Sulistyono, Dialectic of Life,  oil on canvas, 150x250cm, 2019Dok Sulistyono Sulistyono, Dialectic of Life, oil on canvas, 150x250cm, 2019
Andrew menyatakan, karyanya dengan telapak tangan besar, sebuah pesan politis, bagaimana rasisme masih saja terjadi di Tanah Air. “Bahkan saya tak bisa berbahasa mandarin, saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini, yang terdiri dari kebhinekaan ras dan warna kulit”, tutupnya.


Sekilas Seni Kontemporer Kalimantan

Dari perwakilan karya-karya tersebut, yang memaparkan kondisi-kondisi yang sangat lokal, meskipun tentunya ada peristiwa-peristiwa yang dirasakan mirip secara global.

Kalimantan adalah wadah bagi penampang ratusan tahun budaya yang sangat majemuk, sebuah kondisi arus lokal yang kuat. Yang tentunya tak terelakkan pertemuannya dengan arus utama seni kontemporer model Barat.

Terlihat sekali, ada celah, atau lebih tepat sebuah ruang diskusi sebuah seni diaspora, yang dibayangkan sebagai ekspresi dari masyarakat dunia tentang abad 21 ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Regional
APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

Regional
Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Regional
Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Regional
Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Regional
Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Regional
Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Regional
Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Regional
Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Regional
Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Regional
8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Regional
Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X