Zona Kosmopolitanisme, Ketegangan Kota, dan Seni Rupa Kalimantan

Kompas.com - 21/09/2019, 16:10 WIB

“Saya juga ingin menyoroti kerakusan manusia, dengan eksploitasi hutan dan tambang yang mengakibatkan alih fungsi lahan-lahan vital”, ujarnya dalam narasi karya. Agung dengan cermat memasukkan simbol budaya pop, sosok antagonis dalam filem Star Wars, Darth Vader.

Senada dengan Agung, pelukis senior, Misbach Thamrin, dari Kalimantan Selatan, prihatin dengan kerusakan ekologis. Misbach menyodok dengan judul Save Meratus!

Karya cat minyak di atas kanvas ini, dengan ukuran 90 x 150 Cm menggambarkan sang Dewi Alam terbaring menyusui di pegunungan Meratus. Hutan tropis pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, termasuk salah satu bagian dari kawasan paru-paru dunia, yang mensuplai sumber oksigen bagi bumi.

“Tragisnya, operasi perusahaan batu bara dan kelapa sawit mendatangkan petaka lingkungan hidup bagi kelestarian alam. Meratus mengalami kerusakan lingkungan yang dahsyat. Tanah, hutan dan pegunungannya terbongkar, menjadi gundul dan jadi rongga-rongga melompong yang tandus dan kerontang”, kata Misbach dalam narasi karya.

Misbach termasuk pelukis yang dianggap layak masuk dalam zonasi kosmopolitanisme, dengan menimbang kerusakan ekologis tentu hulunya adalah kebijakan orang-orang Kota. Yang mungkin bukan dari area Kalimantan, bisa jadi dari Jakarta?

Agung Eko, Genocida di Borneo, Acrylic on Canvas, 80x120cm, 2017Dok Agung Eko Agung Eko, Genocida di Borneo, Acrylic on Canvas, 80x120cm, 2017
Secara simbolik, ia membayangkan seorang Ibu, atau Dewi Meratus?, yang sedang menyusui dalam lukisannya, bagai orangutan bersama anaknya. Mereka menghuni Meratus, otentik mewarisi masa ratusan tahun sebagai hutan, orang Meratus pemilik sah dari habitatnya yang aseli.

Misbach dengan cara penggambaran “romantik” memberi nuansa sejuk kanvasnya, yang tak seperti lukisan-lukisannya yang lain, berenergi dan meledak, yang kita kenal ia salah seorang pelukis yang mewarisi zaman bergolak pada 1960-an.

Misbach kali ini, menuturkan dengan lembut, mengetuk pintu-pintu warna teduh, yang mencipta suasana pengingat bahwa apakah tetap terjaga keseimbangan lingkungan hidup dan alam yang terus memberi pada manusia terdistorsi kepentingan-kepentingan industri?

Save Meratus! Adalah jargon yang dikenal di Kalimantan Selatan secara intim, tak hanya di kalangan aktivis lingkungan hidup, seniman, jurnalis sampai orang-orang Dayak Meratus, tapi publik umum juga sangat mengenal tentang isu ini.

Lain halnya dengan Dana Prastiyawardanu, pelukis dari Kalimantan Utara, wakil dari generasi milenial bersuara tentang dunia media sosial. Lukisannya menceritakan dampak negatif media sosial yang mengancam dari bertumbuhnya kematangan psikologis manusia, semenjak dari masa anak-anak, terutama pada saat bertumbuh menjadi remaja.

Ia dengan cerdik, mengolah simbol garis polisi, yang biasanya memberi batas tempat terjadinya sebuah perkara kejahatan, kecelakaan dll, menjadi teks: Caution. Dan Dana menampilkan, seseorang, berusia muda, berkacamata, dengan tangan terbuka berteriak dalam warna hijau cerah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Regional
APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

Regional
Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Regional
Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Regional
Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Regional
Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Regional
Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Regional
Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Regional
Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Regional
Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Regional
8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Regional
Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X